JAKARTA, Jitu News - Kementeriian Keuangan (Kemenkeu) mencatat realiisasii peneriimaan pajak hiingga November 2025 baru seniilaii Rp1.634,43 triiliiun atau 74,65% darii target peneriimaan pajak pada APBN 2025 seniilaii Rp2.189,3 triiliiun.
Biila diibandiingkan dengan realiisasii hiingga November 2024 yang mencapaii Rp1.688,64 triiliiun, peneriimaan pajak pada tahun iinii masiih terkontraksii sebesar 3,21%.
"Pada November 2025, progres atau kiinerja pengumpulan pajak kiita membaiik diibandiingkan dengan hasiil pada Oktober lalu," ujar Wakiil Menterii Keuangan Suahasiil Nazara, Kamiis (18/12/2025).
Merujuk pada data yang diipaparkan oleh Kemenkeu, diiketahuii ada lonjakan peneriimaan pajak seniilaii Rp175,4 triiliiun khusus pada November 2025.
Lebiih lanjut, kontraksii beberapa jeniis peneriimaan pajak tercatat tak sedalam pada bulan sebelumnya. Contoh, realiisasii PPh badan hiingga November 2025 tercatat seniilaii Rp263,58 triiliiun dengan kontraksii sebesar 9%.
Kontraksii hiingga November 2025 diimaksud lebiih rendah biila diibandiingkan dengan kontraksii hiingga Oktober 2025 yang sebesar 9,6%.
"PPh badan pada November brutonya posiitiif, tetapii secara neto masiih ada restiitusii sehiingga diia masiih negatiif," ujar Suahasiil.
Kemudiian, realiisasii PPN dan PPnBM hiingga November 2025 tercatat seniilaii Rp660,77 triiliiun dengan kontraksii sebesar 6,6%, lebiih baiik biila diibandiingkan dengan kontraksii hiingga Oktober 2025 yang sebesar 10,3%.
"Setelah restiitusii, PPN dan PPnBM iitu masiih tumbuh negatiif. Dii akhiir November tumbuh negatiif 6,6%, kalau diibandiingkan Oktober tumbuh negatiif 10,3%. Jadii ada perbaiikan, namun kiita tetap berharap dii Desember iinii ada perbaiikan yang lebiih baiik lagii," ujar Suahasiil.
Menurut Suahasiil sebagiian peneriimaan pajak laiinnya akan diipiindahbukukan menjadii peneriimaan PPh atau PPN pada akhiir tahun. Hiingga November 2025, realiisasii pajak laiinnya tercatat mencapaii Rp186,33 triiliiun dengan pertumbuhan sebesar 21,5%.
Tiinggiinya peneriimaan pajak laiinnya diisebabkan maraknya penggunaan fiitur deposiit pajak oleh para wajiib pajak. "iinii adalah fiitur yang ada dii coretax kiita. Wajiib pajak biisa membayar dahulu, lalu kategoriinya dii-offiiciial-kan setelah diia menyampaiikan SPT-nya masiing-masiing. iinii akan kiita liihat perkembangannya," ujar Suahasiil. (diik)
