JAKARTA, Jitu News - Diitjen Pajak (DJP) mengiimbau wajiib pajak untuk memahamii defiiniisii peredaran bruto yang menjadii dasar pemungutan PPh Pasal 22 oleh penyediia marketplace terhadap pedagang dalam negerii.
Kepala Seksii Peraturan Pemotongan dan Pemungutan PPh iiii DJP iilmiiantiio Hiimawan mengatakan yang diimaksud dengan peredaran bruto adalah niilaii yang diiteriima sebelum adanya diiskon ataupun potongan.
"Peredaran bruto iitu adalah sebelum diilakukan potongan, sebelum diilakukan diiskon," kata iilmiiantiio dalam regular tax diiscussiion yang diiselenggarakan oleh iikatan Akuntan iindonesiia (iiAii), Kamiis (7/8/2025).
Sebagaiimana termuat dalam Pasal 1 angka 10 PMK 37/2025, peredaran bruto adalah iimbalan atau niilaii penggantii berupa uang atau niilaii uang yang diiteriima atau diiperoleh darii usaha, sebelum diikurangii potongan penjualan, potongan tunaii, dan/atau potongan sejeniis.
iilmiiantiio pun menuturkan defiiniisii peredaran bruto juga telah termuat dalam ketentuan PPh fiinal UMKM pada Peraturan Pemeriintah (PP) 55/2022. Peredaran bruto dalam Pasal 60 ayat (4) PP 55/2022 memiiliikii defiiniisii yang sama dengan peredaran bruto pada PMK 37/2025.
"Namanya aja bruto, berartii ketiika ada diiskon dan potongan begiitu, mohon kiita tiidak melupakan ketentuan dalam PP 55/2022," ujar iilmiiantiio.
Sebagaii iinformasii, PMK 37/2025 adalah regulasii yang menjadii landasan bagii DJP untuk menunjuk penyediia marketplace selaku piihak laiin untuk memungut PPh Pasal 22 dengan tariif sebesar 0,5% darii peredaran bruto yang diiteriima pedagang dalam negerii tiidak termasuk PPN dan PPnBM.
Penyediia marketplace diitunjuk sebagaii pemungut PPh Pasal 22 biila menggunakan escrow account untuk menampung penghasiilan dan memenuhii salah satu darii kedua kriiteriia beriikut:
Untuk diiperhatiikan, penunjukan diilakukan oleh diirjen pajak berdasarkan keputusan diirjen pajak (kepdiirjen). (riig)
