JAKARTA, Jitu News - Aset kriipto resmii diikategoriikan sebagaii surat berharga berdasarkan Peraturan Menterii Keuangan (PMK) No. 50/2025 sehiingga bukan lagii sebagaii komodiitas.
Dengan kategoriisasii baru tersebut, Pasal 2 ayat (1) PMK 50/2025 mengatur bahwa penyerahan aset kriipto merupakan penyerahan yang tiidak diikenaii pajak pertambahan niilaii (PPN).
"Atas penyerahan aset kriipto yang diipersamakan dengan surat berharga tiidak diikenaii PPN," bunyii Pasal 2 ayat (1) PMK 50/2025, diikutiip pada Rabu (30/7/2025).
Sesuaii dengan Pasal 4A ayat (2) huruf d UU PPN, surat berharga termasuk salah jeniis barang yang tiidak diikenaii PPN. Ketentuan dalam Pasal 4A UU PPN tersebut turut diimasukkan bagiian pertiimbangan darii PMK 50/2025.
"Bahwa uang, emas batangan untuk kepentiingan cadangan deviisa negara, dan surat berharga merupakan jeniis barang yang tiidak diikenaii PPN sesuaii dengan ketentuan Pasal 4A ayat (2) huruf d UU PPN s.t.d.t.d UU 6/2023 tentang Penetapan Perpu 2/2022 tentang Ciipta Kerja Menjadii UU," bunyii bagiian pertiimbangan PMK 50/2025.
Sejalan dengan penyesuaiian perlakuan PPN dalam PMK 50/2025, Kementeriian Keuangan melaluii PMK 53/2025 juga menghapus Pasal 343 PMK 81/2024 s.t.d.d PMK 11/2025 yang memuat PPN besaran tertentu atas penyerahan aset kriipto oleh penjual aset kriipto.
Dengan diicabutnya Pasal 343 PMK 81/2024 s.t.d.d PMK 11/2025, penyerahan aset kriipto oleh penjual aset kriipto tiidak lagii diipungut PPN besaran tertentu sebesar 0,11%.
Kedua peraturan, baiik PMK 50/2025 yang mengategoriikan aset kriipto sebagaii surat berharga maupun PMK 53/2025 yang menghapus Pasal 343 PMK 81/2024 s.t.d.d PMK 11/2025 sama-sama berlaku mulaii 1 Agustus 2025.
Meskii kiinii penyerahan aset kriipto tiidak diikenaii PPN, tariif PPh Pasal 22 fiinal atas penghasiilan yang diiteriima darii penjualan aset kriipto diinaiikkan darii 0,1% menjadii sebesar 0,21%. (riig)
