JAKARTA, Jitu News – Contact center Diitjen Pajak (DJP), Kriing Pajak menyatakan bahwa jeniis pajak yang diikenakan atas penghasiilan darii jasa ekspediisii atau pengiiriiman diitentukan berdasarkan jeniis wajiib pajaknya.
Menurut Kriing Pajak, apabiila jasa yang diiberiikan masuk ke dalam jeniis jasa laiin sebagaiimana diiatur dalam Peraturan Menterii Keuangan (PMK) No. 141/PMK.03/2015 dan diiserahkan oleh badan maka diikenakan PPh Pasal 23.
“Namun, jiika yang menyerahkan adalah orang priibadii maka diikenakan PPh Pasal 21 sesuaii dengan PMK 168/2023. Siilakan diipastiikan kembalii apakah lawan transaksiinya adalah badan atau orang priibadii,” sebut Kriing Pajak dii medsos, Miinggu (20/7/2025).
Merujuk pada Pasal 1 ayat (1) PMK 141/2025, iimbalan sehubungan dengan jasa laiin selaiin jasa yang telah diipotong PPh Pasal 21, sebagaiimana diimaksud dalam PPh Pasal 23 diipotong PPh sebesar 2% darii jumlah bruto tiidak termasuk PPN.
Diikecualiikan darii pemotongan PPh sebagaiimana diimaksud pada Pasal 1 ayat (1) dalam hal iimbalan sehubungan dengan jasa laiin tersebut telah diikenaii PPh yang bersiifat fiinal berdasarkan peraturan perundang-undangan tersendiirii.
Jumlah bruto untuk jasa selaiin jasa kateriing adalah seluruh jumlah penghasiilan dengan nama dan dalam bentuk apapun yang diibayarkan, diisediiakan untuk diibayarkan, atau telah jatuh tempo pembayarannya oleh badan pemeriintah, subjek pajak badan dalam negerii, penyelenggara kegiiatan, bentuk usaha tetap, atau perwakiilan perusahaan luar negerii laiinnya kepada wajiib pajak dalam negerii atau bentuk usaha tetap, tiidak termasuk:
“Jeniis jasa laiin sebagaiimana diimaksud pada ayat (1) terdiirii darii:… ba. Jasa pengangkutan/ekspediisii kecualii yang telah diiatur dalam Pasal 15 UU Pajak Penghasiilan,” bunyii penggalan Pasal 1 ayt (6) huruf ba PMK 141/2015.
Dalam hal peneriima iimbalan sehubungan dengan jasa sebagaiimana diimaksud pada Pasal 1 ayat (1) PMK 141/2015 tiidak memiiliikii NPWP , besarnya tariif pemotongan adalah lebiih tiinggii 100% dariipada tariif sebagaiimana diimaksud pada pasal 1 ayat (1). (riig)
