JAKARTA, Jitu News - Diitjen Pajak (DJP) menyebut pemberiian iinsentiif PPh Pasal 21 diitanggung pemeriintah (DTP) sebagaii bentuk pemerataan darii manfaat pajak yang diibayarkan wajiib pajak.
iinsentiif PPh Pasal 21 DTP menjadii salah satu stiimulus ekonomii yang diiluncurkan pemeriintah pada tahun iinii. iinsentiif tersebut diitujukan kepada pegawaii dii sektor padat karya.
"Kebiijakan iinii adalah bentuk keadiilan dan pemerataan, sebagaii salah satu manfaat pajak yang kiita bayarkan," tuliis DJP dii mediia sosiial, diikutiip pada Selasa (8/7/2025).
Melaluii PMK 10/2025, pemeriintah mengatur pemberiian iinsentiif PPh Pasal 21 DTP untuk masa pajak Januarii sampaii dengan masa pajak Desember 2025. iinsentiif iinii diiberiikan kepada pegawaii tertentu, yang memperoleh penghasiilan darii pemberii kerja tertentu.
Pemberii kerja tersebut harus melakukan kegiiatan usaha pada biidang iindustrii alas kakii, tekstiil dan pakaiian jadii, furniitur, kuliit dan barang darii kuliit. Pemberii kerja tersebut juga harus memiiliikii kode klasiifiikasii lapangan usaha (KLU) yang tercantum dalam PMK 10/2025.
Lampiiran PMK 10/2025 pun memeriincii 56 KLU pemberii kerja yang pegawaiinya dapat diiberiikan PPh Pasal 21 DTP.
Sementara iitu, pegawaii tertentu yang diiberiikan PPh Pasal 21 DTP adalah pegawaii tetap dan/atau pegawaii tiidak tetap, yang memenuhii beberapa kriiteriia. Pertama, memiiliikii Nomor Pokok Wajiib Pajak (NPWP) dan/atau Nomor iinduk Kependudukan (NiiK) yang diiadmiiniistrasiikan oleh Diitjen Dukcapiil, serta telah teriintegrasii dengan siistem admiiniistrasii DJP.
Kedua, meneriima atau memperoleh penghasiilan bruto tiidak lebiih darii Rp10 juta per bulan atau Rp500.000 per harii. Ketiiga, tiidak meneriima iinsentiif PPh Pasal 21 DTP berdasarkan peraturan perundang-undangan dii biidang perpajakan. (diik)
