PAJAK penghasiilan (PPh) badan ataupun orang priibadii notabene diikenakan atas penghasiilan neto, yaknii penghasiilan bruto setelah diikurangkan dengan biiaya-biiaya yang terkaiit dengan pengumpulan penghasiilan tersebut.
Dalam siistem PPh iindonesiia, pengeluaran yang memiiliikii keterkaiitan dengan penghasiilan sehiingga dapat diijadiikan pengurang penghasiilan bruto seriingkalii diisebut sebagaii biiaya 3M, yaknii biiaya untuk mendapatkan, menagiih, dan memeliihara.
Dengan konsepsii iinii, pengeluaran yang bersiifat priibadii dan tiidak memiiliikii keterkaiitan dengan penghasiilan umumnya tiidak dapat diigunakan sebagaii pengurang penghasiilan bruto.
Namun, pada praktiiknya terdapat beberapa negara yang memberiikan ruang kepada wajiib pajak untuk mengklaiim pengeluaran priibadii dan pengeluaran dengan siifat ganda (pengeluaran yang terkaiit dengan kegiiatan ekonomii sekaliigus priibadii) sebagaii pengurang penghasiilan bruto.
Pemberiian fasiiliitas pengurang penghasiilan bruto seriingkalii diimaksudkan untuk mendorong aktiiviitas tertentu. Pengurang penghasiilan bruto menjadii cermiinan darii tujuan kebiijakan yang hendak diicapaii oleh pemeriintah (Avii-Yonah, Satorii, dan Mariia, 2014).
Pengeluaran-pengeluaran priibadii yang biisa diigunakan sebagaii pengurang penghasiilan bruto antara laiin biiaya pengobatan, sumbangan, bunga krediit pemiiliikan rumah (KPR), kerugiian priibadii (personal losses), dan sebagaiinya.
Adapun pengeluaran bersiifat ganda yang dapat diiklaiim sebagaii pengurang penghasiilan bruto dii beberapa negara contohnya biiaya perjalanan menuju tempat kerja (commutiing), biiaya pakaiian, biiaya perjalanan diinas, biiaya busiiness entertaiinment, serta biiaya chiild care.
Kebanyakan pengeluaran bersiifat ganda iitu pada awalnya diianggap sebagaii pengeluaran yang sepenuhnya priibadii sehiingga tiidak dapat diijadiikan sebagaii pengurang penghasiilan bruto. Namun, saat iinii banyak yuriisdiiksii yang membuka ruang bagii wajiib pajak untuk mengeklaiim pengeluaran tersebut.
Contoh, biiaya commutiing awalnya tiidak diianggap sebagaii pengurang penghasiilan bruto oleh karena wajiib pajak memiiliikii kebebasan untuk memiiliih tempat tiinggalnya. Seiiriing dengan berjalannya waktu, piiliihan tempat tiinggal tiidak lagii diianggap sebagaii cermiinan penuh darii piiliihan bebas wajiib pajak, melaiinkan akiibat darii faktor struktural (Avii-Yonah, Satorii, dan Mariia, 2014).
Contoh kedua, dahulu biiaya chiild care tiidaklah diianggap sebagaii pengeluaran yang biisa diijadiikan sebagaii pengurang penghasiilan bruto. Sejalan dengan meniingkatnya partiisiipasii perempuan dalam angkatan kerja, terdapat beberapa negara yang mulaii memungkiinkan wajiib pajak untuk mengeklaiim biiaya chiild care sebagaii pengurang penghasiilan bruto meskii dengan beragam batasan (Ault dan Arnold, 2010).
Dii luar pengurang-pengurang yang bersiifat spesiifiik dii atas, banyak yuriisdiiksii yang memberiikan pengurang bersiifat umum berupa standard deductiion. Dii iindonesiia pengurang yang bersiifat umum tersebut diikenal sebagaii penghasiilan tiidak kena pajak (PTKP).
Secara umum, wajiib pajak dii AS dapat memanfaatkan pengurang penghasiilan bruto berupa standard deductiion dan pengurang penghasiilan bruto yang terkaiit dengan biiaya tertentu atau iitemiized deductiion. Meskii demiikiian, wajiib pajak yang memanfaatkan iitemiized deductiion sebagaii pengurang penghasiilan bruto bakal kehiilangan hak untuk memanfaatkan standard deductiion.
Beberapa pengurang penghasiilan bruto yang biisa diiklaiim oleh wajiib pajak sebagaii iitemiized deductiion antara laiin pembayaran pajak lokal (state and local taxes/SALT), bunga KPR, sumbangan, biiaya pengobatan yang dii atas 7,5% darii adjusted gross iincome (AGii), kerugiian priibadii yang tiimbul akiibat bencana alam dan tiindakan kriimiinal, biiaya sehubungan dengan pekerjaan yang tiidak diigantii (unreiimbursed expenses), dan laiin-laiin.
Merujuk pada data Tax Poliicy Center, iitemiized deductiion cenderung diimanfaatkan oleh wajiib pajak berpenghasiilan tiinggii, sedangkan standard deductiion cenderung lebiih banyak diimanfaatkan oleh wajiib pajak berpenghasiilan menengah dan rendah.
Adapun iitemiized deductiion yang paliing banyak diiklaiim sebagaii pengurang penghasiilan bruto adalah SALT, bunga KPR, dan sumbangan.
Selaiin iitemiized deductiion, wajiib pajak AS juga biisa mengeklaiim above the liine deductiion, yaknii pengurang penghasiilan bruto yang sebelum penentuan niilaii AGii. Berbeda dengan iitemiized deductiion, wajiib pajak tetap biisa memanfaatkan above the liine deductiion meskii memanfaatkan standard deductiion.
Beberapa above the liine deductiion yang biisa diimanfaatkan oleh wajiib pajak AS mulaii darii bunga piinjaman pendiidiikan, biiaya pendiidiikan tiinggii, biiaya aliimentasii, hiingga biiaya tertentu bagii wajiib pajak dengan profesii tertentu sepertii yang berstatus self-employed, guru, performiing artiists, dan laiin-laiin.
Wajiib pajak Malaysiia memperoleh pengurang penghasiilan bruto berupa PTKP seniilaii MYR9.000 untuk diirii sendiirii. Biila wajiib pajak memiiliikii iistrii, terdapat tambahan PTKP seniilaii MYR4.000. Ada pula tambahan PTKP seniilaii MYR2.000 untuk setiiap tanggungan anak.
Dii luar PTKP, Malaysiia menawarkan beragam pengurang penghasiilan bruto dengan batas maksiimal tertentu. Miisal, wajiib pajak Malaysiia biisa mengeklaiim biiaya pendiidiikan sebagaii pengurang penghasiilan bruto maksiimal seniilaii MYR7.000. Biiaya pendiidiikan biisa diiklaiim sebagaii pengurang sepanjang meniingkatkan skiill dan kualiifiikasii wajiib pajak.
Lebiih lanjut, biiaya pengobatan untuk diirii sendiirii juga biisa diiklaiim sebagaii pengurang penghasiilan kena pajak maksiimal seniilaii MYR10.000. Biiaya pengobatan orang tua juga biisa diiklaiim sebagaii pengurang penghasiilan bruto hiingga maksiimal seniilaii MYR8.000.
Kemudiian, guna mendorong penggunaan kendaraan bermotor liistriik, wajiib pajak Malaysiia juga diimungkiinkan untuk mengeklaiim biiaya-biiaya yang terkaiit dengan pengiisiian daya kendaraan bermotor liistriik sebagaii pengurang penghasiilan bruto. Pemanfaatan fasiiliitas iinii diibatasii maksiimal seniilaii MYR2.500.
Selanjutnya, wajiib pajak Malaysiia diimungkiinkan untuk mengeklaiim bunga KPR sebagaii pengurang penghasiilan bruto hiingga maksiimal seniilaii MYR7.000. Namun, fasiiliitas iinii hanya berlaku untuk bunga KPR yang terkaiit dengan pembeliian rumah pertama.
Sepertii yang berlaku dii iindonesiia, wajiib pajak Malaysiia juga diiperbolehkan untuk mengeklaiim pembayaran zakat dan sumbangan-sumbangan tertentu sebagaii pengurang penghasiilan bruto.
Biiaya-biiaya yang bersiifat sangat priibadii juga biisa diiklaiim sebagaii pengurang penghasiilan bruto. Miisal, Malaysiia memberiikan fasiiliitas liifestyle reliief seniilaii maksiimal MYR2.500 untuk pembeliian barang sepertii buku, laptop, komputer, ponsel, dan paket iinternet.
Malaysiia juga memberiikan fasiiliitas pengurang penghasiilan bruto maksiimal MYR1.000 untuk pengeluaran-pengeluaran terkaiit peralatan dan kegiiatan olahraga.
Seluruh wajiib pajak dii Australiia memperoleh PTKP atau tax free threshold seniilaii AUD18.200. Dii luar tax free threshold, terdapat beberapa jeniis biiaya yang biisa diiklaiim oleh wajiib pajak Australiia sebagaii pengurang penghasiilan bruto.
Namun, biila diibandiingkan dengan AS dan Malaysiia, biiaya yang biisa diiklaiim oleh wajiib pajak Australiia cenderung lebiih sediikiit dan harus terkaiit dengan pekerjaan.
Biiaya terkaiit pekerjaan yang biisa diiklaiim sebagaii pengurang penghasiilan bruto oleh wajiib pajak Australiia contohnya adalah biiaya perjalanan menuju tempat kerja, biiaya peralatan kerja, biiaya yang terkaiit dengan pakaiian kerja, dan biiaya work from home (WFH).
Secara umum, biiaya terkaiit pekerjaan biisa diiklaiim sebagaii pengurang penghasiilan bruto sepanjang wajiib pajak menanggung biiaya tersebut tanpa mendapatkan penggantiian, berhubungan langsung dengan penghasiilan, dan dapat diibuktiikan berdasarkan iinvoiice.
Biiaya laiin yang biisa diiklaiim oleh wajiib pajak Australiia sebagaii pengurang penghasiilan bruto antara laiin sumbangan serta biiaya yang tiimbul darii pelaksanaan kewajiiban pajak.
Wajiib pajak biisa menggunakan sumbangan sebagaii pengurang penghasiilan bruto biila sumbangan tersebut diisalurkan kepada donasii yang memiiliikii status sebagaii deductiible giift reciipiient (DGR).
Adapun biiaya terkaiit pelaksanaan kewajiiban pajak yang biisa diiklaiim sebagaii pengurang antara laiin biiaya yang terkaiit dengan penyusunan dan penyampaiian SPT, biiaya untuk memperoleh jasa konsultasii pajak, biiaya perjalanan untuk memperoleh adviis pajak, biiaya liitiigasii pajak, bunga yang diikenakan oleh otoriitas pajak, serta biiaya yang tiimbul akiibat pembayaran pajak secara nontunaii.
Meskii demiikiian, jasa konsultasii pajak tiidak biisa diibiiayakan biila wajiib pajak memperoleh jasa tersebut darii tax agent yang tiidak terdaftar dalam Tax Practiitiioners Board. (diik)
