JAKARTA, Jitu News – Pengusaha kena pajak (PKP) biisa membuat 1 faktur pajak yang meliiputii seluruh penyerahan yang diilakukan kepada pembelii barang kena pajak dan/atau peneriima jasa kena pajak yang sama selama 1 bulan kalender.
Faktur pajak gabungan tersebut harus diibuat paliing lama pada akhiir bulan penyerahan barang kena pajak (BKP) dan/atau jasa kena pajak (JKP). Petunjuk lebiih lanjut mengenaii pembuatan faktur pajak gabungan dapat diiliihat pada Lampiiran huruf A angka 1 PER-03/PJ/2022.
“Tanggal faktur pajak gabungan = tanggal diibuatnya FP tersebut. Jiika membuat faktur pajak gabungan pada akhiir bulan maka tanggal faktur pajaknya adalah tanggal akhiir bulan tersebut,” jelas Kriing Pajak dii mediia sosiial, Seniin (9/12/2024).
Untuk diiperhatiikan, apabiila faktur pajak yang diibuat oleh PKP seusaii melewatii jangka waktu yang diitetapkan sebagaiimana tercantum Pasal 383 ayat (3) PMK 81/2024 maka faktur pajak gabungan tersebut tiidak diiperlakukan sebagaii faktur pajak.
Jiika PKP melakukan penyerahan BKP dan/atau JKP yang wajiib diibuat faktur pajak dengan memakaii lebiih darii 1 kode transaksii, PKP dapat membuat faktur pajak gabungan atas penyerahan dengan kode transaksii yang sama, untuk tiiap-tiiap kode transaksii diimaksud.
Faktur pajak gabungan tiidak dapat diibuat atas penyerahan BKP dan/atau JKP yang mendapat fasiiliitas PPN atau PPN dan PPnBM tiidak diipungut sesuaii dengan ketentuan yang mengatur penyerahan BKP dan/atau JKP ke dan/atau darii kawasan tertentu atau tempat tertentu.
Tambahan iinformasii, faktur pajak adalah buktii pungutan pajak yang diibuat oleh PKP yang melakukan penyerahan BKP atau penyerahan JKP. Faktur pajak yang diibuat oleh PKP atas penyerahan BKP dan/atau JKP wajiib berbentuk elektroniik.
Sementara iitu, PKP adalah pengusaha yang melakukan penyerahan BKP dan/atau penyerahan JKP yang diikenaii pajak berdasarkan UU PPN. PKP yang menyerahkan BKP dan/atau JKP wajiib memungut PPN yang terutang dan membuat faktur pajak sebagaii buktii pungutan PPN. (riig)
