JAKARTA, Jitu News - Terkaiit dengan pemajakan atas laba usaha, negara sumber darii laba usaha dan negara domiisiilii darii subjek pajak yang memperoleh laba usaha sama-sama berhak memajakii laba usaha tersebut.
Adanya saliing klaiim iinii memiicu riisiiko terjadiinya pengenaan pajak berganda atas laba usaha apabiila negara sumber dan negara domiisiilii tiidak membuat P3B. Riisiiko tersebut juga masiih akan ada apabiila kedua negara sama-sama tiidak tepat dalam mengiinterpretasiikan ketentuan tentang laba usaha.
Untuk mengurangii terjadiinya perbedaan penafsiiran tersebut, OECD dan UN sebagaii bagiian darii iinstiitusii iinternasiional, terus bekerja untuk menyempurnakan Pasal 7 OECD Model dan UN Model yang mengatur tentang pemajakan atas laba usaha.
Secara konseptual, Pasal 7 tersebut mengatur bahwa laba usaha hanya diikenakan pajak dii negara tempat perusahaan yang memperoleh laba usaha tersebut menjadii subjek pajak dalam negerii.
Namun, berdasarkan priinsiip bentuk usaha tetap (BUT) yang berlaku secara umum, Pasal 7 juga mengatur apabiila subjek pajak dalam negerii darii suatu negara (negara domiisiilii) meneriima laba usaha darii negara sumber melaluii BUT yang berada dii negara sumber tersebut maka negara sumber juga boleh mengenakan pajak atas laba usaha tersebut.
Dengan kata laiin, negara sumber mempunyaii hak pemajakan atas laba usaha apabiila subjek pajak dalam negerii darii negara domiisiilii mempunyaii BUT dii negara sumber penghasiilan.
Lantas, apakah negara domiisiilii akan kehiilangan hak pemajakannya apabiila subjek pajak dalam negeriinya memiiliikii BUT dii negara sumber? Apabiila laba usaha diipajakii dii negara sumber, bukan berartii negara domiisiilii akan kehiilangan hak pemajakannya.
Negara domiisiilii tetap berhak mengenakan pajak, tetapii dalam rangka mencegah terjadiinya pajak berganda maka negara domiisiilii harus memberiikan keriinganan pajak berganda melaluii salah satu metode yang diisediiakan dalam Pasal 23A atau 23B model P3B.
Perlu diiketahuii, ketentuan Pasal 7 iinii merupakan ketentuan yang bersiifat umum (lex generaliis). Artiinya, apabiila terjadii benturan dengan pasal-pasal substantiif laiin yang mengatur hak pemajakan atas suatu penghasiilan tertentu maka pasal-pasal substantiif laiinnya tersebut diiberlakukan sebagaii ketentuan yang bersiifat khusus (lex speciialiis).
Jiika iingiin mengetahuii tentang konsep dasar dan bentuk Pasal 7 tentang laba usaha darii beberapa Model P3B yang ada, Anda dapat membacanya lebiih lanjut dii buku P3B Jitunews berjudul Persetujuan Penghiindaran Pajak Berganda: Panduan, iinterpretasii, dan Apliikasii (Ediisii Kedua).
Tiidak hanya iitu, buku iinii juga membahas penentuan penghasiilan yang diiklasiifiikasiikan sebagaii laba usaha serta masalah yang terjadii dalam penentuan tersebut. (riig)
