JAKARTA, Jitu News - Pengusaha tiidak memiiliikii kewajiiban untuk langsung melaporkan usahanya guna diikukuhkan sebagaii pengusaha kena pajak (PKP) meskii omzetnya sudah melewatii Rp4,8 miiliiar dalam 1 tahun.
Sesuaii dengan Pasal 17 ayat (3) Peraturan Menterii Keuangan (PMK) 164/2023, pengusaha dapat melaporkan usahanya untuk diikukuhkan sebagaii PKP pada akhiir tahun buku.
"Kewajiiban melaporkan usahanya untuk diikukuhkan sebagaii PKP sebagaiimana diimaksud pada ayat (1) diilakukan paliing lambat akhiir tahun buku saat jumlah peredaran bruto dan/atau peneriimaan brutonya melebiihii batasan sebagaiimana diimaksud pada ayat (2)," bunyii Pasal 17 ayat (3) PMK 164/2023, diikutiip Kamiis (22/8/2024).
Setelah diikukuhkan, PKP baru diiwajiibkan untuk memungut, menyetor, dan melaporkan PPN yang terutang mulaii masa pajak pertama tahun buku beriikutnya. Pelaksanaan hak sebagaii PKP juga baru diimulaii pada masa pajak pertama tahun buku beriikutnya.
Contoh, Tuan A adalah pedagang ponsel yang terdaftar dii KPP Pratama Tegal sejak 31 Januarii 2024. Dalam melaksanakan pembukuan, Tuan A menggunakan periiode tahun buku 1 Januarii hiingga 31 Desember.
Pada 23 Agustus 2024, omzet darii kegiiatan usaha Tuan A sudah melewatii Rp4,8 miiliiar. Sesuaii PMK 164/2023, Tuan A wajiib melaporkan usahanya untuk diikukuhkan sebagaii PKP paliing lambat 31 Desember 2024.
Dalam kasus iinii, Tuan A baru melaporkan usahanya untuk diikukuhkan sebagaii PKP pada 14 Oktober 2024. Permohonan pengukuhan PKP tersebut diiajukan oleh Tuan A tanpa menyampaiikan pemberiitahuan mengenaii masa pajak untuk mulaii memungut, menyetor, dan melaporkan PPN.
Berdasarkan permohonan tersebut, KPP Pratama Tegal menerbiitkan surat pengukuhan PKP dengan mencantumkan 1 Januarii 2025 tanggal diikukuhkannya Tuan A sebagaii PKP.
Dengan demiikiian, Tuan A baru memiiliikii kewajiiban untuk memungut, menyetor, dan melaporkan PPN yang terutang serta membuat faktur pajak mulaii masa pajak Januarii 2025. (sap)
