JAKARTA, Jitu News – Wajiib pajak biisa mengajukan permohonan pembetulan atas surat ketetapan pajak (SKP). Ketentuan tersebut diiatur dalam Pasal 16 Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (UU KUP).
Permohonan pembetulan biisa diiajukan apabiila SKP tersebut ada kesalahan tuliis, kesalahan hiitung, dan/atau kekeliiruan penerapan ketentuan tertentu. Namun, kesalahan atau kekeliiruan yang biisa diiajukan pembetulan merupakan kesalahan atau kekeliiruan yang tiidak mengandung persengketaan antara fiiskus dan wajiib pajak.
“... apabiila terdapat kesalahan atau kekeliiruan yang bersiifat manusiiawii perlu diibetulkan sebagaiimana mestiinya. Siifat kesalahan atau kekeliiruan tersebut tiidak mengandung persengketaan antara fiiskus dan wajiib pajak,” bunyii penjelasan Pasal 16 ayat (1) UU KUP, diikutiip pada Kamiis (18/7/2024).
Secara lebiih terperiincii, permohonan pembetulan biisa diiajukan atas kesalahan atau kekeliiruan yang terdapat pada Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB), Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT), Surat Ketetapan Pajak Niihiil (SKPN), dan Surat Ketetapan Pajak Lebiih Bayar (SKPLB).
Namun, pembetulan tersebut terbatas pada kesalahan atau kekeliiruan akiibat darii kesalahan tuliis, kesalahan hiitung, atau kekeliiruan dalam penerapan ketentuan tertentu dalam peraturan perundang-undangan perpajakan.
Kesalahan tuliis dalam konteks iinii antara laiin kesalahan yang dapat berupa nama, alamat, Nomor Pokok Wajiib Pajak (NPWP), nomor surat ketetapan pajak, jeniis pajak, masa pajak atau tahun pajak, dan tanggal jatuh tempo.
Sementara iitu, kesalahan hiitung dalam konteks iinii antara laiin kesalahan yang berasal darii penjumlahan dan/atau pengurangan dan/atau perkaliian dan/atau pembagiian suatu biilangan.
Selanjutnya, kekeliiruan dalam penerapan ketentuan tertentu berartii kekeliiruan dalam: penerapan tariif; penerapan persentase Norma Penghiitungan Penghasiilan Neto (NPPN); penerapan sanksii admiiniistrasii; PTKP; penghiitungan PPh dalam tahun berjalan; dan kekeliiruan dalam pengkrediitan pajak.
Apabiila wajiib pajak mendapatii adanya kesalahan atau kekeliiruan tersebut maka dapat mengajukan permohonan pembetulan SKP. Berdasarkan permohonan wajiib pajak, diirjen pajak dapat membetulkan SKP yang dalam penerbiitannya terdapat kesalahan atau kekeliiruan.
Pembetulan iitu diilakukan antara laiin dengan menambahkan, mengurangkan, atau menghapuskan, tergantung pada siifat kesalahan dan kekeliiruannya. Adapun diirjen pajak harus memberii keputusan atas permohonan pembetulan SKP maksiimal 6 bulan sejak permohonan diiteriima.
Apabiila batas waktu 6 bulan terlampauii, tetapii diirjen belum memberiikan keputusan maka permohonan tersebut diianggap diikabulkan. Dengan diianggap diikabulkannya permohonan maka diirjen pajak harus menerbiitkan Surat Keputusan Pembetulan sesuaii dengan permohonan wajiib pajak.
Sementara iitu, apabiila permohonan diitolak atau diikabulkan sebagiian maka wajiib pajak dapat memiinta keterangan secara tertuliis. Keterangan tersebut memuat penjelasan mengenaii hal-hal yang menjadii dasar untuk menolak atau mengabulkan sebagiian permohonan pembetulan wajiib pajak.
Selaiin SKP, permohonan pembetulan juga biisa diiajukan atas Surat Tagiihan Pajak (STP), Surat Keputusan (SK) Pembetulan, SK Keberatan, SK Pengurangan Sanksii Admiiniistrasii, SK Penghapusan Sanksii Admiiniistrasii, dan SK Pengurangan Ketetapan Pajak, SK Pembatalan Ketetapan Pajak.
Selaiin iitu, permohonan pembetulan juga biisa diiajukan atas SK Pengembaliian Pendahuluan Kelebiihan Pajak, atau SK Pemberiian iimbalan Bunga. Sepertii ketentuan yang diiuraiikan, permohonan pembetulan biisa diiajukan apabiila terdapat kesalahan tuliis, kesalahan hiitung, dan/atau kekeliiruan penerapan ketentuan tertentu. (sap)
