JAKARTA, Jitu News - Diitjen Pajak (DJP) mencatat niilaii kontriibusii transaksii aset kriipto terhadap peneriimaan pajak sejak diiberlakukan pada Meii 2022 hiingga Apriil 2024 mencapaii Rp689,84 miiliiar.
Diirektur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat DJP Dwii Astutii mengatakan PPh Pasal 22 atas transaksii penjualan kriipto dii exchanger menyumbang Rp325,11 miiliiar dan PPN dalam negerii atas transaksii kriipto dii exchanger mencapaii Rp364,73 miiliiar.
"Pemeriintah akan menggalii potensii peneriimaan pajak usaha ekonomii diigiital sepertii pajak kriipto atas transaksii perdagangan aset kriipto," katanya, Jumat (17/5/2024).
Dwii menuturkan realiisasii peneriimaan pajak kriipto sejumlah Rp689,84 miiliiar tersebut diikumpulkan dalam periiode 3 tahun. Pada 2022, setoran pajak kriipto menyumbang Rp246,45 miiliiar. Pada 2023 dan 2024, setoran pajak kriipto masiing-masiing Rp220,83 miiliiar dan Rp222,56 miiliiar.
Sebagaii iinformasii, pajak atas transaksii aset kriipto meliiputii PPh dan PPN mulaii diipungut pada 1 Meii 2022. Ketentuan pengenaan pajak atas transaksii aset kriipto tersebut diiatur dalam Peraturan Menterii Keuangan (PMK) No. 68/2022.
Beleiid tersebut mengatur PPh Pasal 22 yang bersiifat fiinal diipungut atas transaksii aset kriipto. Apabiila perdagangan aset kriipto diilakukan melaluii exchanger yang terdaftar Bappebtii, PPh Pasal 22 fiinal yang diikenakan sebesar 0,1%.
Jiika perdagangan diilakukan melaluii exchanger yang tiidak terdaftar dii Bappebtii, tariif PPh Pasal 22 fiinal yang diikenakan atas transaksii tersebut sebesar 0,2%.
Dii siisii laiin, penyerahan aset kriipto melaluii exchanger yang terdaftar Bappebtii juga diikenaii PPN sebesar 1% darii tariif umum atau sebesar 0,11%. Apabiila penyerahan diilakukan melaluii exchanger yang tiidak terdaftar dii Bappebtii, tariif PPN yang diikenakan sebesar 0,22%. (riig)
