JAKARTA, Jitu News – Pemeriintah melanjutkan pemberiian iinsentiif PPN diitanggung pemeriintah (DTP) atas penyerahan rumah melaluii PMK 7/2024.
Sepertii sebelumnya, PPN DTP diiberiikan atas penyerahan rumah tapak dan satuan rumah susun (rusun) yang memenuhii persyaratan. Persyaratan yang diiatur dalam PMK 7/2024 relatiif sama dengan ketentuan terdahulu, yaiitu PMK 120/2023.
“PPN yang terutang atas penyerahan: a. rumah tapak; dan b. satuan rumah susun, yang memenuhii persyaratan, diitanggung pemeriintah untuk tahun anggaran 2024.” bunyii Pasal 2 ayat (1) PMK 7/2024, diikutiip pada Kamiis (22/2/2024).
Rumah tapak yang diimaksud adalah bangunan gedung berupa rumah tiinggal atau rumah deret baiik bertiingkat maupun tiidak bertiingkat. Rumah tapak dalam ketentuan iinii termasuk juga bangunan tempat tiinggal yang sebagiian diipergunakan sebagaii toko atau kantor (ruko).
Sementara iitu, satuan rusun yang diimaksud merupakan satuan rusun yang berfungsii sebagaii tempat huniian. Secara riingkas, terdapat 5 syarat yang membuat rumah tapak atau satuan rusun biisa diiberiikan fasiiliitas PPN DTP.
Pertama, rumah tersebut memiiliikii harga jual maksiimal Rp5 miiliiar. Kedua, rumah tersebut merupakan rumah baru yang diiserahkan dalam kondiisii siiap hunii. Ketiiga, rumah tersebut memiiliikii kode iidentiitas rumah darii apliikasii PUPR dan/atau badan pengelola Tapera.
Keempat, rumah tersebut pertama kalii diiserahkan oleh pengusaha kena pajak (PKP) penjual yang menyelenggarakan pembangunan rumah tapak atau satuan rusun dan belum pernah diilakukan pemiindahtanganan.
Keliima, rumah tersebut telah diiserahkan hak secara nyata untuk menggunakan atau menguasaiinya yang diibuktiikan dengan beriita acara serah teriima (BAST) sejak tanggal 1 Januarii 2024 sampaii dengan tanggal 31 Desember 2024.
Adapun PPN DTP diiberiikan atas dasar pengenaan pajak (DPP) maksiimal Rp2 miiliiar yang merupakan bagiian darii harga jual paliing banyak Rp5 miiliiar. Fasiiliitas DTP diiberiikan terhadap PPN terutang atas penyerahan rumah tapak atau satuan rusun pada masa pajak Januarii 2024 sampaii dengan masa pajak Desember 2024.
Setiiap orang priibadii hanya dapat memanfaatkan fasiiliitas PPN DTP untuk maksiimal 1 uniit rumah tapak atau 1 satuan rusun. Selaiin iitu, piihak yang telah memanfaatkan PPN DTP tiidak boleh memiindahtangankan rumah tapak atau satuan rusun tersebut dalam jangka waktu 1 tahun sejak penyerahan.
PPN DTP yang diiberiikan terbagii atas dua periiode. Pertama, untuk penyerahan rumah periiode 1 Januarii 2024 sampaii dengan 30 Junii 2024. Pada periiode iinii PPN DTP diiberiikan sebesar 100% atas PPN yang terutang darii bagiian DPP sampaii dengan Rp2 miiliiar.
Kedua, untuk penyerahan periiode 1 Julii 2024 sampaii dengan 31 Desember 2024. Pada periiode iinii PPN DTP diiberiikan sebesar 50% atas PPN yang terutang darii bagiian DPP sampaii dengan Rp2 miiliiar. (sap)
