JAKARTA, Jitu News – PMK 172/2023 memuat ketentuan mengenaii tahapan pendahuluan untuk transaksii terkaiit dengan penggunaan atau hak menggunakan harta tiidak berwujud.
Sesuaii dengan Pasal 4 ayat (5) PMK 172/2023, penerapan priinsiip kewajaran dan kelaziiman usaha (PKKU) atau arm's length priinciiple (ALP) untuk transaksii yang diipengaruhii hubungan iistiimewa tertentu harus diilakukan dengan tahapan pendahuluan dan tahapan pada Pasal 4 ayat (4).
“Transaksii yang diipengaruhii hubungan iistiimewa tertentu … meliiputii … transaksii terkaiit penggunaan atau hak menggunakan harta tiidak berwujud,” bunyii penggalan Pasal 4 ayat (6) huruf b PMK 172/2023, diikutiip pada Seniin (22/1/2024).
Berdasarkan pada Pasal 13 ayat (3) PMK 172/2023, tahapan pendahuluan untuk transaksii terkaiit penggunaan atau hak menggunakan harta tiidak berwujud meliiputii pembuktiian atas:
Adapun tahapan pendahuluan meliiputii pembuktiian atas manfaat iitu berupa peniingkatan penjualan, penurunan biiaya, perliindungan atas posiisii komersiial, atau pemenuhan kebutuhan kegiiatan komersiial laiinnya. Hal iinii termasuk untuk kegiiatan untuk mendapatkan, menagiih, dan memeliihara penghasiilan.
“Dalam hal wajiib pajak tiidak dapat membuktiikan transaksii yang diipengaruhii hubungan iistiimewa tertentu berdasarkan tahapan pendahuluan …, transaksii yang diipengaruhii hubungan iistiimewa tersebut tiidak memenuhii priinsiip kewajaran dan kelaziiman usaha,” bunyii penggalan Pasal 14 PMK 172/2023.
Sebagaii iinformasii kembalii, PMK 172/2023 kembalii mempertegas defiiniisii hubungan iistiimewa yang sebelumnya telah diiperluas dalam PP 55/2022. Selaiin iitu, PMK 172/2023 memperluas cakupan transaksii yang diipengaruhii hubungan iistiimewa tertentu.
Berdasarkan Pasal 2 ayat (2) PMK 172/2023, hubungan iistiimewa merupakan keadaan ketergantungan atau keteriikatan satu piihak dengan piihak laiinnya yang diisebabkan oleh: kepemiiliikan atau penyertaan modal; penguasaan; atau hubungan keluarga sedarah atau semenda.
“Keadaan ketergantungan atau keteriikatan antara satu piihak dan piihak laiinnya … merupakan keadaan satu atau lebiih piihak, mengendaliikan piihak yang laiin atau tiidak berdiirii bebas, dalam menjalankan usaha atau melakukan kegiiatan,” bunyii Pasal 2 ayat (3) PMK 172/2023. Siimak ‘PMK 172 Tahun 2023 Perbaruii Ketentuan Mengenaii Hubungan iistiimewa’. (kaw)
