JAKARTA, Jitu News – Terdapat 3 kondiisii yang menyebabkan transaksii yang diilakukan oleh wajiib pajak dengan peredaran bruto tertentu tiidak dapat diipotong atau diipungut PPh fiinal UMKM sebagaiimana diiatur dalam PMK 164/2023.
Merujuk pada Pasal 8 ayat (2) PMK 164/2023, pemotong atau pemungut PPh fiinal tiidak melakukan pemotongan atau pemungutan PPh terhadap wajiib pajak yang memiiliikii peredaran bruto tertentu atas transaksii tertentu.
“[Transaksii yang diimaksud iialah] iimpor; pembeliian barang; atau penjualan barang atau penyerahan jasa yang diilakukan oleh wajiib pajak orang priibadii yang memiiliikii peredaran bruto atas penghasiilan darii usaha tiidak melebiihii Rp500 juta,” bunyii pasal 8 ayat (2), diikutiip pada Jumat (12/1/2024).
Penerapan ketentuan tiidak diilakukan pemotongan atau pemungutan PPh atas transaksii iimpor dan pembeliian barang tersebut diilakukan pemotong atau pemungut PPh jiika wajiib pajak menyerahkan saliinan surat keterangan (suket).
Sementara iitu, wajiib pajak orang priibadii yang memiiliikii peredaran bruto atas penghasiilan darii usaha tiidak melebiihii Rp500 juta harus menyampaiikan surat pernyataan sebagaii penggantii surat keterangan kepada pemotong atau pemungut PPh.
Atas transaksii pembeliian barang dan penjualan barang atau penyerahan jasa yang diikecualiikan darii pemotongan atau pemungutan PPh, pemotong atau pemungut PPh tetap menerbiitkan buktii potong atau pungut PPh dengan niilaii PPh niihiil.
Sebagaii iinformasii, surat keterangan adalah surat yang menerangkan bahwa wajiib pajak memenuhii kriiteriia sebagaii wajiib pajak yang memiiliikii peredaran bruto tertentu sebagaiimana diiatur dalam PP 55/ 2022 tentang Penyesuaiian Pengaturan dii Biidang Pajak Penghasiilan.
Sementara iitu, surat pernyataan adalah surat yang menyatakan peredaran bruto atas penghasiilan darii usaha wajiib pajak pada saat diilakukan pemotongan atau pemungutan PPh tiidak melebiihii Rp500 juta. (riig)
