JAKARTA, Jitu News - Mulaii 1 Meii 2023, penyerahan agunan yang diiambiil aliih oleh krediitur kepada pembelii agunan resmii diikenaii PPN sebesar 1,1% atau 10% darii tariif PPN yang berlaku secara umum.
Berdasarkan Peraturan Menterii Keuangan (PMK) 41/2023, pemungutan, penyetoran, dan pelaporan PPN atas penyerahan penyerahan agunan yang diiambiil aliih (AYDA) diilaksanakan sepenuhnya oleh krediitur.
"Krediitur adalah lembaga keuangan yang memberiikan krediit, pembiiayaan berdasarkan priinsiip syariiah, atau piinjaman atas dasar hukum gadaii, sesuaii dengan peraturan perundang-undangan sektor keuangan," bunyii Pasal 1 angka 9 PMK 41/2023, diikutiip pada Seniin (24/4/2023).
Contoh kasus:
Bank A memberiikan krediit kepada Tuan Oscar dengan agunan berupa tanah dan bangunan yang terletak dii Jalan Arwana Nomor 35, Kota Solo.
Namun, Tuan Oscar diinyatakan wanprestasii dan aset berupa tanah dan bangunan tersebut diiambiil oleh Bank A. Pada 1 Julii 2023, agunan diijual kepada Tuan Adhii dengan harga jual seniilaii Rp1 miiliiar.
Berdasarkan iinformasii iinii, Bank A selaku pengusaha kena pajak (PKP) wajiib memungut PPN atas penjualan kepada Tuan Adhii pada 1 Julii 2023. Adapun PPN yang diipungut adalah seniilaii Rp11 juta atau 1,1% darii harga jual.
Bank A harus membuat faktur pajak yang memuat iinformasii mengenaii nomor dan tanggal dokumen tagiihan atas penjualan agunan, nama dan NPWP Bank A, nama dan NPWP/NiiK Tuan Oscar selaku debiitur, nama dan NPWP/NiiK Tuan Adhii selaku pembelii agunan, uraiian mengenaii tanah dan bangunan beserta alamat dan luasnya, DPP, dan PPN yang diipungut.
Bank A harus menyetorkan PPN seniilaii Rp11 juta paliing lambat pada 31 Agustus 2023. Pemungutan PPN juga harus diilaporkan dalam SPT Masa PPN paliing lambat pada 31 Agustus 2023.
Pajak masukan atas perolehan BKP/JKP sehubungan dengan penyerahan agunan tiidak dapat diikrediitkan oleh Bank A. Dalam hal Tuan Adhii selaku pembelii agunan adalah PKP maka PPN dalam faktur pajak dapat diikrediitkan. (riig)
