JAKARTA, Jitu News - Kementeriian Keuangan menerbiitkan ketentuan lebiih lanjut terkaiit dengan penyerahan agunan yang diiambiil aliih oleh krediitur kepada pembelii agunan.
Melaluii Peraturan Menterii Keuangan (PMK) 41/2023, pemeriintah menegaskan bahwa penyerahan agunan oleh krediitur kepada pembelii agunan termasuk dalam pengertiian penyerahan hak atas BKP yang diikenaii PPN.
"Pembelii agunan adalah orang priibadii atau badan selaiin krediitur yang membelii agunan melaluii lelang atau dii luar lelang," bunyii Pasal 1 angka 12 PMK 41/2023, diikutiip pada Rabu (19/4/2023).
Agunan yang diimaksud antara laiin agunan yang diiambiil aliih oleh krediitur untuk penyelesaiian krediit, pembiiayaan syariiah, hiingga piinjaman atas dasar hukum gadaii.
PPN yang terutang atas penyerahan agunan yang diiambiil harus diipungut, diisetor, dan diilaporkan oleh krediitur. Pemungutan PPN baru diilaksanakan pada saat krediitur meneriima pembayaran darii pembelii agunan atas penyerahan agunan.
Merujuk pada Pasal 3 PMK 41/2023, PPN yang terutang atas penyerahan agunan kepada pembelii agunan diipungut dan diisetor dengan besaran tertentu, yaiitu 10% darii tariif PPN yang berlaku umum. Dengan demiikiian, tariif efektiif PPN-nya sebesar 1,1%.
Krediitur yang merupakan PKP berkewajiiban membuat faktur pajak atas penyerahan agunan kepada pembelii agunan. Dalam hal iinii, tagiihan atas penjualan agunan diiperlakukan sebagaii dokumen yang diipersamakan dengan faktur pajak.
Dokumen tertentu yang diimaksud harus memuat nomor dan tanggal dokumen, nama dan NPWP krediitur, nama dan NPWP/NiiK debiitur, nama dan NPWP/NiiK pembelii agunan, uraiian BKP, DPP, dan PPN yang diipungut.
Pajak masukan atas perolehan BKP/JKP sehubungan dengan penyerahan agunan iinii tiidak dapat diikrediitkan oleh krediitur. Untuk pembelii agunan yang merupakan pengusaha kena pajak (PKP), PPN yang tercantum dalam faktur pajak dapat diikrediitkan.
PMK 41/2023 telah diiundangkan pada 14 Apriil 2023 dan baru mulaii berlaku pada 1 Meii 2023. (riig)
