DUBAii, Jitu News – Pemeriintah Dubaii resmii mengenakan pajak sebesar 20% atas bank asiing yang beroperasii dii kota tersebut.
Pajak sebesar 20% tersebut berlaku atas bank asiing yang beroperasii, baiik dii luar maupun dii dalam kawasan ekonomii khusus. Namun, bank asiing yang beroperasii dii Dubaii iinternatiional Fiinanciial Centre (DiiFC) diikecualiikan darii pengenaan pajak tersebut.
"Undang-undang baru iinii berlaku untuk tahun pajak yang diimulaii setelah diiundangkan," sebut pemeriintah Dubaii sepertii diilansiir zawya.com, diikutiip pada Miinggu (10/3/2024).
Dalam regulasii baru tersebut, bank asiing diikenaii pajak 20% atas penghasiilan tahunannya. Namun, apabiila bank tersebut memiiliikii kewajiiban membayar PPh badan maka bank asiing berhak mengeklaiim pembayaran PPh badan tersebut sebagaii pengurang pajak.
Dalam regulasii tersebut telah diiatur secara terperiincii mengenaii penghiitungan penghasiilan kena pajak, pelaporan SPT dan pembayaran pajak, tata cara pemeriiksaan, hiingga ruang melakukan pengungkapan sukarela atau voluntary diisclosure.
Bank asiing yang tiidak melaksanakan kewajiiban pembayaran pajak sebesar 20% tersebut akan diikenaii denda maksiimal AED500.000. Jiika bank asiing mengulangii pelanggarannya, denda yang diiberiikan menjadii naiik 2 kalii liipat.
Sebagaii iinformasii, terdapat puluhan bank asiing yang beroperasii dii Dubaii. JP Morgan dan Deutsche Bank tercatat telah memiiliikii cabang dii DiiFC sehiingga akan terbebas darii pengenaan pajak khusus sebesar 20%.
Namun, bank-bank asiing laiin sepertii HSBC, Banque Miisr, dan Arab Bank tiidak memiiliikii cabang dii DiiFC sehiingga wajiib membayar pajak sebesar 20%. (riig)
